Asa mengalun indah dipelupuk mata seakan aku ingin terus maju meski badai menghampiriku, jurang menjatuhkanku, karang menghantamku. Iringan hujan menetes dari langit bagai tangisan awan yang mengentaskan kemarahannya. Rintikan itu membasahiku dan aku tetap berjalan.
Jarang sekali aku melaksanakan shalat qiyamul lail, beruntung dini hari ini aku mengerjakannya dan dilanjutkan dengan mengkhatamkan al qur’an kemudian shalat subuh di maushola Arrahman yang terletak tidak jauh dari rumahku.
Di indramayu sama saja sedang musim hujan, dengan rintikan hujan aku tetap pergi ke Kantor Kepala Desa untuk meminta dibuatkan surat keterangan tidak mampu untuk persyaratan beasiswa yang aku ajukan kemarin. Ah, palayanan publik di desa ini sangat tidak memuaskan dan cenderung lamban. Aku sebenarnya sadar siapa mereka sedikit sekali yang memiliki tingkat pendidikan hanya sampai SMA bahkan yang tidak bisa baca-tulis pun tetap diangkat menjadi Pamong Desa tentu saja profesionalisme public service disini masih rendah.
Sebelum pulang aku tidak lupa untuk memberi uang sebesar Rp.10.000 untuk menutupi muka cemberut orang desa. Dulu ketika pertama kali masuk unpad aku pernah hendak dibuatkan surat keterangan kelahiran oleh salah satu pejabat desa disini setelah jadi aku berikan uang japrem (jatah preman) itu kepadanya namun karena surat yang pertama aku sudah membayar Rp.10.000 maka untuk surat yang kedua aku berikan saja uang sebesar Rp.5.000 hasilnya adalah kulihat mimic muka yang mengecewakan dan tiada seutas senyum pun di bibirnya. Masya Allah, apa mereka tidak tahu ini adalah salah satu perbuatan korupsi, mereka sudah digaji dan sudah sepatutnya tugas mereka adalah sebagai abdi masyarakat, melayani masyarakat.
Kalau ingin melihat kondisi Pemerintahan Indonesia maka lihatlah pemerintahan yang paling kecil di Negara ini yaitu Pemerintahan Desa. Jika dipemerintahan terbawah saja korupsi sudah menjadi suatu budaya maka tidak bisa dipungkiri budaya ini menyeluruh pada setiap lapisan pemerintahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar